Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Tangerang Selatan en-US Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING KUALITAS UDARA AMONIA (NH3) DAN METANA (CH4) PADA TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH SEMENTARA https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg/article/view/103 <p><em>Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) adalah lokasi atau fasilitas yang digunakan untuk mengumpulkan sementara sampah dari berbagai sumber sebelum sampah tersebut diangkut ke lokasi pemrosesan akhir. Pengelolaan TPS yang tidak baik dapat menyebabkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan, seperti pencemaran air dan udara, salah satunya adalah gas ammonia dan metana. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem monitoring kualitas udara untuk mendeteksi gas amonia (NH3) dan metana (CH4) di area tempat pembuangan sampah sementara, yang merupakan sumber potensial polusi udara berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Menggunakan sensor gas MQ-4 dan MQ-135 yang sensitif terhadap NH3 dan CH4. Sistem ini dirancang menggunakan NodeMCU ESP32 yang telah dilengkapi dengan penyimpanan dalam kartu micro SD dan informasi konsentrasi gas ditampilkan pada LCD. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem monitoring yang dikembangkan mampu mendeteksi konsentrasi NH3 dan CH4 dengan keakuratan yang baik, serta memberikan data real-time untuk pengambilan keputusan dalam manajemen tempat pembuangan sampah sementara. </em></p> Hapsoro Agung Nugroho Derby B. Adinara I Made Kris A Astra Copyright (c) 2025 Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2024-11-04 2024-11-04 4 5 1 8 PERBANDINGAN METODE DAVENPORT, MILNE, DAN MCGUIRRE DALAM PENENTUAN NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DI PULAU BALI https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg/article/view/133 <p>Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tiga metode perhitungan percepatan tanah maksimum (PGA), yaitu metode Davenport, Milne, dan McGuire, dalam konteks wilayah Pulau Bali. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari <em>United States Geological Survey</em> (USGS), mencakup rentang waktu dari tahun 2000 hingga 2023 dengan koordinat bujur 114.4°-115.7° BT dan lintang 8°-8.9° LS. Proses penelitian dimulai dengan pengumpulan data gempa bumi historis yang mencakup informasi latitude, longitude, magnitudo, dan kedalaman gempa. Selanjutnya, peta tingkat seismisitas disusun menggunakan perangkat lunak GMT, diikuti oleh pembuatan peta kontur PGA. Hasil analisis menunjukkan variasi signifikan dalam nilai PGA antara ketiga metode yang diuji. Metode Davenport menghasilkan nilai antara 0.008938 g hingga 5.239334 g, sedangkan metode Milne menunjukkan rentang 0.013766 g hingga 3.175333 g. Metode Mc.Guirre.R.K memberikan hasil terendah, berkisar antara 0.026402 g hingga 0.276039 g. Temuan ini menunjukkan bahwa metode McGuirre memiliki konsistensi yang lebih baik dalam selisih nilai antara PGA tertinggi dan terendah, yang mencerminkan pola persebaran nilai PGA yang lebih akurat di setiap lokasi pengamatan. Temuan ini penting untuk mendukung perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang lebih tahan gempa, serta meningkatkan keamanan masyarakat di daerah berisiko tinggi.</p> Rayhan Hielmy Copyright (c) 2025 Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2024-11-04 2024-11-04 4 5 9 16 POTENSI BENCANA KEKERINGAN BERDASARKAN INDEKS ANOMALI CURAH HUJAN DI KOTA BENGKULU https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg/article/view/141 <p>Kekeringan diartikan sebagai kondisi sebuah wilayah mengalami kekurangan air yang signifikan untuk periode waktu yang relatif lama. Rainfall Anomaly Index (RAI) merujuk pada indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan meteorologis karena menggunakan data curah hujan sebagai unsur&nbsp; utama. Ketika nilai RAI menunjukkan kekurangan hujan yang signifikan, langkah-langkah pencegahan bisa diambil lebih awal untuk meminimalkan dampak yang timbul akibat kekeringan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan bulanan yang diamati oleh Stasiun Klimatologi Bengkulu pada rentang waktu 2021 - 2023. Data tersebut dihitung nilai Indeks Anomali Curah Hujan (RAI) dan kemudian melakukan analisis perbulan maupun secara tahunan. Hasil yang diperoleh adalah Bulan Juli menjadi bulan yang selalu masuk dalam kategori bulan kering. Curah hujan bulanan Kota Bengkulu masuk dalam kategori kering jika nilainya dibawah 245 mm per bulan. Kategori Normal jika curah hujan berada diantara 245 - 305 mm per bulan dan dikategorikan basah jika curah hujannya diatas 306 mm per bulan.</p> <p>Kekeringan diartikan sebagai kondisi sebuah wilayah mengalami kekurangan air yang signifikan untuk periode waktu yang relatif lama. Rainfall Anomaly Index (RAI) merujuk pada indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan meteorologis karena menggunakan data curah hujan sebagai unsur&nbsp; utama. Ketika nilai RAI menunjukkan kekurangan hujan yang signifikan, langkah-langkah pencegahan bisa diambil lebih awal untuk meminimalkan dampak yang timbul akibat kekeringan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan bulanan yang diamati oleh Stasiun Klimatologi Bengkulu pada rentang waktu 2021 - 2023. Data tersebut dihitung nilai Indeks Anomali Curah Hujan (RAI) dan kemudian melakukan analisis perbulan maupun secara tahunan. Hasil yang diperoleh adalah Bulan Juli menjadi bulan yang selalu masuk dalam kategori bulan kering. Curah hujan bulanan Kota Bengkulu masuk dalam kategori kering jika nilainya dibawah 245 mm per bulan. Kategori Normal jika curah hujan berada diantara 245 - 305 mm per bulan dan dikategorikan basah jika curah hujannya diatas 306 mm per bulan.</p> Pungky Saiful Akbar Setyo Aji Pramono Copyright (c) 2025 Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2024-11-04 2024-11-04 4 5 17 24 IDENTIFIKASI LETUSAN DEBU VULKANIK GUNUNG MARAPI DENGAN CITRA SATELIT HIMAWARI-9 ( STUDI KASUS 03 - 05 DESEMBER 2023) https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg/article/view/115 <p>Debu vulkanik merupakan bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan gunung berapi yang bisa terdiri dari batuan yang berukuran besar hingga berukuran halus.Indonesia mempunyai 3 lempeng tektonik yang aktif yakni lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik sehingga mengakibatkan munculnya zona subduksi (pertemuan dua lempeng) hal tersebut yang membuat Indonesia mempunyai banyak gunung berapi yang aktif, Gunung marapi adalah salah satu dari 129 gunung yang aktif di indonesia hingga saat ini, Gunung Marapi mempunyai Ketinggian 2.891 meter (9.465,2 kaki). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar untuk menganalisis dampak erupsi Gunung Marapi pada tanggal 03-05 Desember 2023. Metode penelitian menggunakan citra satelit HIMAWARI 9 dan data ECMFW yang diolah dengan GrADS. Hasil visualisasi pada 03 Desember 2023 menunjukkan kesulitan identifikasi erupsi karena tertutup awan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sebaran debu vulkanik dan trajectori terhadap erupsi gunung marapi tanggal 03 - 05 Desember 2023, dengan pemanfaatan satelit himawari-9 yang di olah di SATAID dengan data dari Filezilla serta menggunakan metode RGB dalam pengolahan hasil visualisasi sebaran debu vulkanik dan trajectori maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Metode RGB menggunakan citra satelit Himawari-9 didapati dengan baik mendeteksi pola spasial sebaran dan trajektori debu vulkanik. Pada 04 Desember, sebaran abu vulkanik masih tertutup awan, namun pada 23.50 UTC terlihat sebaran debu vulkanik ke barat daya. Pada 05 Desember, sebaran abu vulkanik mengarah ke barat daya. Interpretasi trajectory erupsi menunjukkan pergerakan abu vulkanik ke utara, barat daya, selatan, tenggara, dan akhirnya ke timur. Peta streamline pada 05 Desember 2023 pukul 01.00-03.00 UTC memperkuat arah sebaran debu vulkanik. Arah angin pada waktu tersebut mendukung sebaran debu vulkanik ke barat daya dengan kecepatan berkisar antara 1,2-6 knot.</p> Leslycheenris Kadiwaru Yahya Darmawan Copyright (c) 2025 Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2024-11-04 2024-11-04 4 5 25 32 PEMANFAATAN DATA REANALISIS (ERA5) DALAM SIMULASI CLEAR AIR TURBULENCE PADA PESAWAT BTK7581, BTK6582, SJV756, DAN SJV739 (STUDI KASUS 17-18 AGUSTUS 2024) https://www.balai2bmkg.id/index.php/buletin_mkg/article/view/142 <p>Clear Air Turbulance (CAT) merupakan fenomena turbulensi yang diakibatkan oleh faktor selain konvektif. Pada umumnya CAT terjadi antara 8 km hingga 12 km. Fenomena ini sangat merugikan pada penerbangan, karena tidak dapat dideteksi oleh peralatan yang ada didalam pesawat. Apabila pesawat mengalami kejadian CAT maka pesawat melaporkannya melalui AMDAR (Aircraft Meteorological Data Relay) sesaat setelah mengalami turbulensi. Dalam penelitian ini, empat kejadian CAT pada tanggal 17-18 Agustus 2024&nbsp; disimulasikan menggunakan data model Reanalisis (ERA5). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks terbaik dalam mendeteksi dua kejadian CAT tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit produk Cloud Type dan data keluaran Reanalisis (ERA5) yang ditampilkan oleh software GRADS. Indeks yang digunakan untuk mendeteksi fenomena CAT adalah indeks VWS, Ri dan TI1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua indeks yaitu VWS dan Ri hasil keluaran model Reanalisis (ERA5) menunjukkan potensi turbulensi ringan hingga sedang pada keempat lokasi kejadian, sedangkan Indeks TI1 mengindikasikan adanya potensi turbulensi ringan- ekstrem. Indeks-indeks tersebut cukup mampu mensimulasikan kejadian turbulensi pada tanggal 17-18 Agustus 2024.</p> Eria Wahdatun Nangimah Reyvaldo Tristyanto Copyright (c) 2025 Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2024-11-04 2024-11-04 4 5 33 39